Kembali
Etika Organisasi: Jangan Membahas yang Bukan Urusan Kita
Fahrulrozi Maulana S.Sos
28 April 2026
49 views
KTMMM - Karang Taruna bukan hanya tempat berkegiatan, tapi juga ruang belajar bagi para pemuda untuk tumbuh dalam kebersamaan. Di dalamnya, kita dilatih untuk bekerja sama, berbagi tanggung jawab, dan menjaga hubungan sosial yang sehat.
Namun dalam kenyataannya, tidak semua persoalan muncul dari program atau kegiatan. Sering kali, masalah muncul dari hal-hal kecil yang berawal dari obrolan, terutama obrolan tentang orang lain yang sebenarnya bukan urusan kita.
Misalnya, membicarakan kenapa seseorang jarang hadir, menebak-nebak alasan pribadi seseorang, atau menyampaikan dugaan yang belum jelas kebenarannya. Hal-hal semacam ini sering dilakukan dengan ringan, tapi bisa berdampak besar.
Ketika satu orang mulai membahas orang lain tanpa kejelasan, biasanya akan diikuti oleh yang lain. Ujung-ujungnya, tercipta suasana yang tidak nyaman dan hubungan antarpengurus menjadi renggang.
Padahal, bisa jadi orang yang dibicarakan sedang menghadapi hal yang tidak ia sampaikan secara terbuka, urusan pekerjaan, keluarga, atau kondisi pribadi lainnya. Kita tidak pernah tahu sepenuhnya.
Sebagai anggota Karang Taruna, kita perlu tahu batas. Tidak semua hal perlu kita bahas. Tidak semua urusan orang lain perlu kita campuri. Menjaga lisan dan sikap adalah bagian dari etika berorganisasi.
Organisasi akan sehat kalau kita bisa saling percaya. Tapi kepercayaan itu bisa rusak hanya karena satu kalimat yang tidak seharusnya diucapkan. Maka dari itu, berbicaralah seperlunya, dan lebih baik diam bila tidak tahu duduk persoalannya.
Karang Taruna akan maju jika semua anggotanya saling mendukung, bukan saling menilai di belakang. Kalau ada yang ingin ditanyakan, tanyakan langsung dengan cara yang baik. Kalau ada masalah, bicarakan di tempat dan forum yang benar.
Etika itu sederhana. Tidak membahas yang bukan urusan kita adalah salah satunya. Dan dari hal sederhana inilah, organisasi bisa tetap utuh dan tumbuh dengan rasa saling menghargai.
Penulis: Rais Maulana Ihsan / KTMMM